Monday, December 10, 2012

Terinspirasi…, Lalu (mencoba) Menginspirasi



            “Pernah jatuh cinta?”, tanya seorang kawan suatu hari yang sudah lama berselang. Setelah sedikit mengingat dan menghitung kejadian, saya menjawab sambil lalu, “Pernah lah, beberapa kali.”. Kawan saya itu tersenyum, lalu bertanya, “Gimana awalnya? Kenapa bisa jatuh cinta gitu maksudnya?”. Waktu itu saya tanpa terlalu dalam berpikir langsung saja menjawab bahwa biasanya saya jatuh cinta karena kebaikan, kecerdasan, wawasan yang luas, selera humor, kesamaan hobi, atau hal-hal baik lainnya. Kalimat selanjutnya dari kawan saya sungguh di luar dugaan. Dia bilang itu berarti saya belum pernah jatuh cinta. Karena ketika seseorang benar-benar jatuh cinta maka dia tidak akan benar-benar tahu apa alasannya.
“Ah, teori!”, cibir saya waktu itu, dalam hati.
            Ternyata butuh waktu cukup lama bagi saya untuk mengalami “teori” kawan saya itu. Tahun lalu, di tahun kedua saya mengajar di SMP Al Hikmah Surabaya, saya menemukan diri saya tiba-tiba merasakan “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang rasanya mirip-mirip dengan deskripsi kawan saya tentang jatuh cinta. Tanpa tahu alasannya, tanpa tahu kapan tepatnya perasaan itu ada, saya menemukan diri saya bahagia, rindu jika tidak bertemu, menerima kekurangannya, bersabar menghadapinya, menertawakan kenakalan dan keisengannya, dan sering tanpa sadar hati saya berdo’a  untuk kebaikannya hari ini dan selamanya.
Saya jatuh cinta pada murid-murid saya. Karena apa? Hahaha, entahlah. Saya benar-benar tidak tahu alasannya. Yang saya tahu, benar kata kawan saya. Sejak saat itu, hingga entah kapan, mereka, murid-murid saya itu, akan selalu menjadi cinta saya, semangat saya. Inspirasi saya.
Umumnya pendapat dan pengalaman menyampaikan bahwa gurulah yang  seringkali merupakan inspirasi-inspirasi hidup bagi para muridnya. Saya dulu pun begitu, saat saya masih SMP saya ingat betul ada seorang ustadz pengajar bahasa arab bernama Akhyar Surkati. Saya begitu terinspirasi dengan semangat beliau. Tinggal di daerah Bangil kalau tidak salah, beliau berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali dengan menumpang kendaraan umum yang berhenti di depan pintu gerbang perumahan Deltasari dan beliau harus melanjutkan dengan berjalan kaki hampir 1 KM menuju sekolah kami dulu. Setiap hari. Untuk waktu yang sangat lama, atau mungkin sampai hari ini. Semoga ALLAH melimpahinya kebaikan dan kemuliaan di dunia terlebih di akhirat nanti. Aamiin.
Saya masih merasa sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan guru-guru saya itu. Sebaliknya, seringkali saya terinpirasi oleh kehadiran murid-murid saya. Atau setidaknya sering sekali mereka berhasil menjadi mood-booster di hari-hari datar saya. Murid-murid saya itu sering sekali membuat saya tertawa, tertegun-tegun, bengong, atau berkaca-kaca mendengar apa yang mereka ucapkan atau pertanyaan yang mereka ajukan. Suatu hari contohnya, di kelas ketika kami sedang membahas tentang Countable and Uncountable Nouns, saya mengajukan sebuah pertanyaan pada mereka untuk memberi contoh kata benda yang bersifat Uncountable (saat itu pemahaman mereka tentang benda uncountable adalah benda yang tidak bisa dihitung), seorang anak laki-laki yang pendiam mengacungkan tangan dan berkata, “Nikmat dari ALLAH termasuk benda yang uncountable ya, Ustadzah? Karena nikmat dari ALLAH kan tidak bisa dihitung oleh manusia.”. Subhaanallaah. Bagaimana saya tidak tertegun dan berkaca-kaca mendengar kalimat sebijak itu dari lisan anak kelas 7 SMP? Semoga berkah ALLAH tercurah padamu, Nak.
Murid-murid saya juga merupakan inspirasi-inspirasi kebaikan dalam diri saya. Ketika saya meminta mereka menjaga pergaulan secara syar’i, saya juga berjuang untuk melakukannya secara lebih baik. Ketika menganjurkan mereka untuk menutup aurat sesuai perintah ALLAH, saya menemukan semangat untuk berhijab dengan sempurna sesuai tuntunan Qur’an dan Hadits. Ketika menganjurkan mereka untuk beribadah dengan lebih baik, seakan saya berbicara pada diri sendiri, mengingatkan diri saya sendiri. Subhaanallaah, semoga ALLAH selalu melindungi mereka dan memberi mereka kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sungguh saya mencintai mereka karena ALLAH.
Saya juga belajar banyak tentang kesabaran dan pengendalian diri karena mereka. Jujur saja, saya adalah orang yang emosional. Bahagia, sedih, marah, dan bentuk-bentuk emosi lainnya akan jelas tercetak dalam raut wajah saya, sulit sekali ditutup-tutupi. Tapi saya sadar, sebagai guru saya harus pandai mengendalikan emosi saya terutama yang sifatnya negative ketika menghadapi murid-murid saya. Saya pernah mendengar sebuah pendapat seorang ahli psikologi, yaitu ketika kita berkata negative kepada seorang anak, entah itu bentuknya bentakan, hinaan, atau kalimat ringan semacam bercanda tapi melecehkan, perkataan-perkataan tersebut akan melekat di alam bawah sadar anak-anak itu dan memberikan efek yang buruk pada perkembangan psikologisnya. Yang lebih menyedihkan lagi, seorang rekan saya memberitahukan bahwa ketika kita membentak mereka, sambungan saraf-saraf dalam otak mereka bisa terputus. Padahal semakin banyak sambungan pada saraf-saraf otak akan meningkatkan potensi yang mereka miliki. Wallaahu a’lam bishshowaab. Lambat laun, kebiasaan saya menahan diri dan mengendalikan emosi saya di kelas membuat saya merasa mulai mampu melihat lebih jelas segala sisi baik hal-hal yang tampaknya buruk. Tidak hanya di kelas saja, perspektif baru itu terbawa hingga ke dalam kehidupan pribadi saya di luar lingkungan sekolah. Alhamdulillaah.
Ah, begitu dalamnya mereka menginspirasi saya. Mereka, murid-murid saya itu, anak-anak yang awalnya adalah orang-orang asing bagi saya, membuat saya merasakan cinta yang rasanya tanpa syarat. Membuat saya menyadari ada jenis-jenis ikatan lain yang bahkan sama kuatnya dengan ikatan keluarga atau ukhuwwah islamiyah. Dan subhaanallaah, mereka mengubah saya menjadi orang yang lebih baik, insyaALLAH. Saya pun punya mimpi tentang betapa saya ingin sekali menginspirasi mereka dalam kebaikan seperti halnya para guru saya yang mulia dulu menginspirasi saya. Saya teringat kisah yang sangat menggugah dari bumi Palestina. Salah satu mantan pimpinan HAMAS yang sangat terkenal, Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah, dulunya juga seorang guru. Dikisahkan, suatu hari beliau mengajarkan pada murid-murid kecilnya tentang keutamaan shalat malam, esok harinya para wali murid datang ke sekolah dan bersaksi bahwa anak-anak mereka tak mau tidur di malam hari karena ingin melaksanakan shalat malam. Begitu pula ketika Syaikh menceritakan hikmah puasa, esoknya murid-muridnya tidak mau makan karena ingin berpuasa. Jiwa saya begitu tergetar mendengar kisah tersebut. Begitu dalamnya Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah menginspirasi jiwa-jiwa yang menuntut ilmu kepadanya. Subhaanallaahu wallaahuakbar.
Saya iri dengan keberhasilan Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah dalam menginspirasi murid-muridnya. Saya pun ingin sekali suatu ketika, mungkin saat murid-murid saya sudah tidak bersama saya lagi, ketika ALLAH telah menebarkan mereka di atas bumi-NYA yang luas ini, mereka mengingat saya lebih dari seseorang yang mengajarkan bahasa inggris kepada mereka. Saya sungguh ingin, ketika mereka mengingat saya mereka akan terinspirasi untuk melakukan sebuah kebaikan, entah bagi diri mereka sendiri atau bahkan bagi umat ini. Dan saya ingin saat mereka melakukan sebuah kebaikan, mereka mengingat saya, lalu mendoakan saya. Aamiin.

Wallaahu a’lam bishshowaab…





Surabaya, 10 Desember 2012



…to all of my students, with love and pray J


No comments:

Post a Comment