“Pernah
jatuh cinta?”, tanya seorang kawan suatu hari yang sudah lama berselang.
Setelah sedikit mengingat dan menghitung kejadian, saya menjawab sambil lalu, “Pernah lah, beberapa kali.”. Kawan saya
itu tersenyum, lalu bertanya, “Gimana
awalnya? Kenapa bisa jatuh cinta gitu maksudnya?”. Waktu itu saya tanpa
terlalu dalam berpikir langsung saja menjawab bahwa biasanya saya jatuh cinta
karena kebaikan, kecerdasan, wawasan yang luas, selera humor, kesamaan hobi,
atau hal-hal baik lainnya. Kalimat selanjutnya dari kawan saya sungguh di luar
dugaan. Dia bilang itu berarti saya belum pernah jatuh cinta. Karena ketika
seseorang benar-benar jatuh cinta maka dia tidak akan benar-benar tahu apa
alasannya.
“Ah, teori!”, cibir saya waktu itu, dalam hati.
Ternyata butuh waktu cukup lama bagi
saya untuk mengalami “teori” kawan saya itu. Tahun lalu, di tahun kedua saya
mengajar di SMP Al Hikmah Surabaya, saya menemukan diri saya tiba-tiba
merasakan “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang rasanya mirip-mirip dengan
deskripsi kawan saya tentang jatuh cinta. Tanpa tahu alasannya, tanpa tahu
kapan tepatnya perasaan itu ada, saya menemukan diri saya bahagia, rindu jika
tidak bertemu, menerima kekurangannya, bersabar menghadapinya, menertawakan
kenakalan dan keisengannya, dan sering tanpa sadar hati saya berdo’a untuk kebaikannya hari ini dan selamanya.
Saya jatuh cinta pada murid-murid saya. Karena apa? Hahaha, entahlah.
Saya benar-benar tidak tahu alasannya. Yang saya tahu, benar kata kawan saya. Sejak
saat itu, hingga entah kapan, mereka, murid-murid saya itu, akan selalu menjadi
cinta saya, semangat saya. Inspirasi saya.
Umumnya pendapat dan pengalaman menyampaikan bahwa gurulah yang seringkali merupakan inspirasi-inspirasi hidup
bagi para muridnya. Saya dulu pun begitu, saat saya masih SMP saya ingat betul
ada seorang ustadz pengajar bahasa arab bernama Akhyar Surkati. Saya begitu
terinspirasi dengan semangat beliau. Tinggal di daerah Bangil kalau tidak
salah, beliau berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali dengan menumpang kendaraan
umum yang berhenti di depan pintu gerbang perumahan Deltasari dan beliau harus
melanjutkan dengan berjalan kaki hampir 1 KM menuju sekolah kami dulu. Setiap
hari. Untuk waktu yang sangat lama, atau mungkin sampai hari ini. Semoga ALLAH
melimpahinya kebaikan dan kemuliaan di dunia terlebih di akhirat nanti. Aamiin.
Saya masih merasa sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan guru-guru
saya itu. Sebaliknya, seringkali saya terinpirasi oleh kehadiran murid-murid
saya. Atau setidaknya sering sekali mereka berhasil menjadi mood-booster di hari-hari datar saya.
Murid-murid saya itu sering sekali membuat saya tertawa, tertegun-tegun,
bengong, atau berkaca-kaca mendengar apa yang mereka ucapkan atau pertanyaan
yang mereka ajukan. Suatu hari contohnya, di kelas ketika kami sedang membahas
tentang Countable and Uncountable Nouns,
saya mengajukan sebuah pertanyaan pada mereka untuk memberi contoh kata benda
yang bersifat Uncountable (saat itu
pemahaman mereka tentang benda uncountable
adalah benda yang tidak bisa dihitung), seorang anak laki-laki yang pendiam
mengacungkan tangan dan berkata, “Nikmat
dari ALLAH termasuk benda yang uncountable ya, Ustadzah? Karena nikmat dari
ALLAH kan tidak bisa dihitung oleh manusia.”. Subhaanallaah. Bagaimana saya
tidak tertegun dan berkaca-kaca mendengar kalimat sebijak itu dari lisan anak
kelas 7 SMP? Semoga berkah ALLAH tercurah padamu, Nak.
Murid-murid saya juga merupakan inspirasi-inspirasi kebaikan dalam diri
saya. Ketika saya meminta mereka menjaga pergaulan secara syar’i, saya juga
berjuang untuk melakukannya secara lebih baik. Ketika menganjurkan mereka untuk
menutup aurat sesuai perintah ALLAH, saya menemukan semangat untuk berhijab
dengan sempurna sesuai tuntunan Qur’an dan Hadits. Ketika menganjurkan mereka
untuk beribadah dengan lebih baik, seakan saya berbicara pada diri sendiri,
mengingatkan diri saya sendiri. Subhaanallaah, semoga ALLAH selalu melindungi
mereka dan memberi mereka kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sungguh saya
mencintai mereka karena ALLAH.
Saya juga belajar banyak tentang kesabaran dan pengendalian diri karena
mereka. Jujur saja, saya adalah orang yang emosional. Bahagia, sedih, marah,
dan bentuk-bentuk emosi lainnya akan jelas tercetak dalam raut wajah saya,
sulit sekali ditutup-tutupi. Tapi saya sadar, sebagai guru saya harus pandai
mengendalikan emosi saya terutama yang sifatnya negative ketika menghadapi
murid-murid saya. Saya pernah mendengar sebuah pendapat seorang ahli psikologi,
yaitu ketika kita berkata negative kepada seorang anak, entah itu bentuknya
bentakan, hinaan, atau kalimat ringan semacam bercanda tapi melecehkan,
perkataan-perkataan tersebut akan melekat di alam bawah sadar anak-anak itu dan
memberikan efek yang buruk pada perkembangan psikologisnya. Yang lebih
menyedihkan lagi, seorang rekan saya memberitahukan bahwa ketika kita membentak
mereka, sambungan saraf-saraf dalam otak mereka bisa terputus. Padahal semakin
banyak sambungan pada saraf-saraf otak akan meningkatkan potensi yang mereka
miliki. Wallaahu a’lam bishshowaab. Lambat laun, kebiasaan saya menahan diri
dan mengendalikan emosi saya di kelas membuat saya merasa mulai mampu melihat lebih
jelas segala sisi baik hal-hal yang tampaknya buruk. Tidak hanya di kelas saja,
perspektif baru itu terbawa hingga ke dalam kehidupan pribadi saya di luar
lingkungan sekolah. Alhamdulillaah.
Ah, begitu dalamnya mereka menginspirasi saya. Mereka, murid-murid saya
itu, anak-anak yang awalnya adalah orang-orang asing bagi saya, membuat saya
merasakan cinta yang rasanya tanpa syarat. Membuat saya menyadari ada
jenis-jenis ikatan lain yang bahkan sama kuatnya dengan ikatan keluarga atau
ukhuwwah islamiyah. Dan subhaanallaah, mereka mengubah saya menjadi orang yang
lebih baik, insyaALLAH. Saya pun punya mimpi tentang betapa saya ingin sekali menginspirasi
mereka dalam kebaikan seperti halnya para guru saya yang mulia dulu
menginspirasi saya. Saya teringat kisah yang sangat menggugah dari bumi
Palestina. Salah satu mantan pimpinan HAMAS yang sangat terkenal, Asy Syahid
Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah, dulunya juga seorang guru. Dikisahkan, suatu
hari beliau mengajarkan pada murid-murid kecilnya tentang keutamaan shalat
malam, esok harinya para wali murid datang ke sekolah dan bersaksi bahwa
anak-anak mereka tak mau tidur di malam hari karena ingin melaksanakan shalat
malam. Begitu pula ketika Syaikh menceritakan hikmah puasa, esoknya
murid-muridnya tidak mau makan karena ingin berpuasa. Jiwa saya begitu tergetar
mendengar kisah tersebut. Begitu dalamnya Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin
rahimahullah menginspirasi jiwa-jiwa yang menuntut ilmu kepadanya. Subhaanallaahu
wallaahuakbar.
Saya iri dengan keberhasilan Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah
dalam menginspirasi murid-muridnya. Saya pun ingin sekali suatu ketika, mungkin
saat murid-murid saya sudah tidak bersama saya lagi, ketika ALLAH telah
menebarkan mereka di atas bumi-NYA yang luas ini, mereka mengingat saya lebih
dari seseorang yang mengajarkan bahasa inggris kepada mereka. Saya sungguh
ingin, ketika mereka mengingat saya mereka akan terinspirasi untuk melakukan
sebuah kebaikan, entah bagi diri mereka sendiri atau bahkan bagi umat ini. Dan
saya ingin saat mereka melakukan sebuah kebaikan, mereka mengingat saya, lalu
mendoakan saya. Aamiin.
Wallaahu a’lam
bishshowaab…
Surabaya, 10 Desember 2012
…to all of my students, with love and pray J